My imagination that I pour into this media | With God everything is possible

0 people have left comments

Commentors on this Post-

My total viewer

Calendar

Georgia Tech Yellow Jackets
Diberdayakan oleh Blogger.

My Friends

Search Artikel

Memuat...

Ikan nya tolong di kasih makan ya..!! mudah qo,, tinggal klik aja di area kolamnya,, thank's..

Akses sms Gratis

sms

Sabtu, 26 November 2011



PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia tidak akan pernah merasa cukup karena manusia bukanlah makhluk yang sempurna, dari ketidak sempurnaan itu manusia harus mensyukuri terhadap apa yang telah ia miliki, karena orang lain belum tentu memilikinya. Di zaman yang serba moderen ini banyak sekali orang yang tidak merasa puas atau merasa cukup baik dalam segi harta maupun jabatan. Banyak orang yang hanya memikirkan hal duniawi saja, sedang mereka lupa akan hal akhirat.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang menggunakan waktunya untuk mencari kesenangan di dunia saja akan tetapi untuk hal akhirat hanya memberikan waktu sisanya saja. Padahal kalau kita tahu waktu yang Allah berilan kepada kita itu bukan hanya untuk mencari kesenangan duniawi saja melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Allah swt. Berfirman :
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS Ad-Dzariat : 56).
Alah swt. Menciptakan kita melainkan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Oleh sebab itu kita harus menggunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya, karena pemanfaatan waktu akan menentukan pencapaian kita di akhirat kelak, yaitu menuju surga atau neraka. Rosul saw. bersabda:
نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ (رواه البخارى عن ابن عباس)
“Dua nikmat yang menipu kebanyakan manusia, kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari Dari Ibnu Abbas).
Banyak orang di dunia ini yang belum mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, seperti yang telah Allah berikan kepada kita dari mulai ujung rambut hingga kebawah kedua telapak kaki, dari mulai bangun tidur sampai kita tidur lagi, banyak sekali hal yang harus kita syukuri. Allah SWT berfirman :
“… Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. (QS. Ibrahim : 34)
Dari ayat di atas banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada umat-Nya sehingga manusia tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Sebagai perumpamaan, nikmat yang Allah berikan kepada kita diibaratkan jarum yang dicelupkan ke lautan kemudian jarum itu dicabut kembali dan sebanyak air yang jatuh itulah nikmat yang diberikan kepada kita. Sebagai contoh, di hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara yang segar dengan bebasnya, bagai mana jadinya kalau kita harus membayar udara yang kita hirup sehari-hari ini, berapa banyak kah bayaran yang harus kita keluarkan?. Oleh sebab itu kita harus banyak bersyukur dan bagai manapun juga kita tidak boleh mengkufuri nikmat yang telah Allah berikan. Selain itu masih banyak sekali hal lainnya yang harus dan wajib kita syukuri.
Dari latar belakang diatas, maka penulis mempunyai inisiatif untuk membuat karya tulis ilmiah ini dengan mengambil judul : SYUKUR DALAM AL-QUR’AN (Analisis terhadap tafsir QS. Ibrahim : 7).
B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya :
1. Apa pengertian syukur ?
2. Bagaimana penafsiran syukur dalam QS. Ibrahim : 7 ?
3. Bagaimana Konsep syukur dalam QS. Ibrahim : 7?
C. Tujuan Pembahasan
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan pembahasan ini antara lain :
1. Untuk mengetahui pengertian syukur
2. Untuk mengetahui penafsiran syukur dalam QS Ibrahim : 7
3. Untuk mengetahui konsep syukur dalam QS Ibrahim : 7
D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan metode bibliografi (kepustakaan) yaitu metode penelitian dengan jalan membaca buku-buku yang ada kaitanya dengan masalah yang akan dibahas. Memahami, menelaah dan menyimpulkanya. Buku-buku tersebut penulis jadikan sebagai pegangan dari rujukan dalam mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah ini.

BAB II
SYUKUR DALAM AL-QUR’AN
(Analisis terhadap tafsir QS. Ibrahim : 7)
A. Pengertian Syukur
Secara terminology syukur berasal dari kata bahasa Arab, berasal dari kata ” شَكَرَ- يَشْكُرُ- شُكْرًا yang berarti berterima kasih kepada Allah atau dari kata lainشَكَرَ yang berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih[1]. Kata syukur (شُكُوْر) adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara - yasykuru- syukran - wa syukuran - wa syukranan (شَكَرَ - يَشْكُرُ - شُكْرًا - وَشُكُوْرًا - وَشُكْرَانًا). Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin (شِيْن), kaf (كَاف), dan ra’ (رَاء), yang mengandung makna antara lain “pujian atas kebaikan” dan “penuhnya sesuatu”.
Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama, syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti untunglah atau merasa lega atau senang dll[2]. Dan dalam salah satu kutipan lain menjelaskan bahwa syukur adalah gambaran dalam benak tetang nikmat dan menampakkannya ke permukaan. Lain hal dengan sebagaian ulama yang menjelaskan syukur berasal dari kata “syakara” yang berarti membuka yang dilawan dengan kata “kufur” yang berarti “menutup” atau melupakan segala nikmat dan menutup-nutupinya[3]. Hal ini berdasarkan ayat 7 surat Ibrahim:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِىْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Menurut Ibnu Faris[4] bahwa kata syukur memiliki empat makna dasar yaitu sebagai berikut:
1. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput;
2. Kepenuhan dan ketabahan, seperti pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat شَكَرَةُ الشَّجَرَة (syakarat asy-syajarah);
3. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit);
4. Pernikahan atau alat kelamin.
Dari keempat makna ini, M. Quraish Shihab[5] menganalisis bahwa kedua makna terakhir dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Yakni, makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang menggambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedangkan makna keempat sejalan dengan makna kedua karena dengan pernikahan atau alat kelamin dapat melahirkan anak. Dengan demikian, makna-makna dasar tersebut dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata syukur (شُكُوْر) mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”.
Al-Asfahani menyatakan[6] bahwa kata syukur mengandung arti “gambaran di dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan”. Pengertian ini diambil dari asal kata syukur (شُكُوْر) ‘seperti dikemukakan di atas’ yakni kata syakara (شَكَرَ), yang berarti “membuka” sehingga ia merupakan lawan dari kata kafara/kufur (كَفَرَ\كُفُوْر), yang berarti “menutup”, atau “melupakan nikmat dan menutup-nutupinya”. Jadi, membuka atau menampakkan nikmat Allah antara lain di dalam bentuk memberi sebahagian dari nikmat itu kepada orang lain, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir[7].
Seandainya manusia mau meninggalkan sifat sombong dan ingkarnya, bersedia untuk berfikir dan menggunakan hatinya, niscaya tidak ada satu alasanpun yang akan mampu membuat kita untuk tidak bersyukur. Sungguh Allah selalu memberikan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada setiap hamba-Nya. Bahkan, tidak ada satupun makhulukn-Nya yang luput dari karunia-Nya “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi mlainkan Allah-lah yang memberikan rezeki-Nya.” QS. Hud : 6

Sesungguhnya Allah telah memberikan peringatan kepada para hamba-Nya yang tidak mensyukuri nikmat-Nya.

"Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? ". (QS. An-Nahl : 71)
Ayat ini salah satu dasar ukhuwah dan persamaaan dalam islam

"Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)".(QS. An-Nahl : 55)
Akankah kita tidak tergerak untuk mencari tambahan nikmat yang talah dijadikan Allah? Bukankah Allah telah berjanji untuk menambahkan nikmat kepada hamba-Nya yang bersyukur? Sungguh Allah adalah tuhan yang maha mnrima ungkapan syukur dari hamba-nya dan maha memberikan balasan terbaik terhadap apa yang telah diberikan oleh hamba-Nya. Akan tetapi, sebagaimana sifat fitrahnya, manusia lebih banyak berkeras hati dan seringkali menghijab diri mereka dengan kesombongan hingga perasaan bersyukur tidak mewarnai kalbunya.
Dalam sejarah kehidupan, banyak pelajaran tentang manusia-manusia yang lalai bersyukur, sekalipun Allah telah menganugerahkan kepada mereka rezeki dan kenikmatan yang berlimpah.
Allah swt. Berfirman :

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS. An-Nahl : 112)

B. Penafsiran al-qur’an QS Ibrahim : 7
1. Teks ayat
ŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öxu6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöuÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9
2. Terjemah
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
3. Penafsiran
a. Makna kosakata
إِذْوَ : Dan (ingatlah) tatkala
تَأَذَّنَ : Memaklumkan
رَبُّكُمْ : Tuhanmu
شَكَرْتُمْ لَئِنْ : Jika kamu bersyukur
لَأَزِيْدَنَّكُمْ : Maka aku akan tambah nikmatmu
كَفَرْتُمْ لَئِنْ وَ : Dan jika kamu kufur
إِنَّ : Sesungguhnya
عَذَابِىْ : Adzabku
لَشَدِيْدٌ : Sangat pedih
b. Makna global[8]
Dalam ayat ini Allah SWT. kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Kemudian dilaksanakan-Nya, betapa besarnya faedah dan keuntungan yang akan diperoleh setiap orang yang banyak bersyukur kepada-Nya, yaitu bahwa Dia akan senantiasa menambah rahmat-Nya kepada mereka.
Sebaliknya Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya dan tidak mau bersyukur bahwa dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka.
Mensyukuri rahmat Allah, pertama ialah dengan ucapan yang setulus hati, kemudian diiringi pula dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut dengan cara dan untuk tujuan yang diridai-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat, bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, pada umumnya tak pernah jatuh miskin atau pun sengsara, bahkan sebaliknya rezekinya senantiasa bertambah dan kekayaannya makin meningkat dan hidupnya bahagia, dicintai dan dihormati dalam pergaulan. Sebaliknya orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak cepat bertambah bahkan lekas menyusut. Dalam pada itu ia senantiasa dibenci dan dikutuki orang banyak, sehingga kehidupan akhiratnya jauh dari ketenangan dan kebahagiaan.
ŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öu6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöuxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
c. Tafsir[9]
رَبُّكُمْ تَأَذَّنَ وَإِذْ
Dan ingatlah, hai bani israil, ketika Allah memaklumkan janji-Nya kepada kalian dengan berfirman :
زِيْدَنَّكُمْ لَأَ شَكَرْتُمْ لَئِنْ
“Jika kalian mensyukuri nikmat penyelamatan dan lain-lain yang aku berikan kepada kalian, dengan menanti-Ku dalam segala perintah dan larangan-Ku, niscaya aku akan menambah nikmat yang telah kuberikan kepada kalian”
Pengalaman menunjukan, bahwa setiap kali anggota tubuh yang digunakan untuk bekerja dilatih terus menerus dengan pekerjaan, maka bertambahlah kekuatannya, tetapi apabila diberhentikan dari kerja, maka akan lemahlah ia. Demikian halnya dengan nikmat: apabila digunakan dalam perkara yang untuk itu ia berikan, maka akan tetaplah ia, tetapi apabila diabaikan, maka akan hilanglah ia. Al-Bukhari dalam tarikh, dan adh-Dhiya’ di dalam Al-Mukhtarah mengeluarkan riwayat dari Anas, bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
“ barang siapa diberi petunjuk (untuk melakukan) lima (perkara), maka dia tidak akan diharamkan (untuk menerima) lima (perkara): – antara lain – barag siapa diberi petunjuk untuk bersyukur, maka tidak akan diharamkan (untuk menerima) tambahan”.
Jadi, barang siapa bersyukur kepada Allah atas rezeki yang dilimpahkan padanya, maka Allah maka Allah akan melapangkan rezekinya. Barang siapa bersyukur atas ketaatan kepada-Nya, maka dia akan menambahkan ketaatannya, dan barang siapa bersyukur atas nikmat kesehatanyang dilimpahkan kepadanya, maka dia akan menambah kesehatanya. Demikian halnya dengan nikmat-nikmat yang lain.
كَفَرْتُمْ لَئِنْ وَ
Akan tetapi, jika kalian kufur dan ingkar kepada nikmat-nikmat Allah, serta tidak memenuhi hak nikmat tersebut, seperti bersyukur kepada Allah yang member nikmat itu …
لَشَدِيْدٌ عَذَابِىْ إِنَّ
… Maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih, yaitu dengan tidak memberikan nikmat itu kepada kalian dan merampas buah-buahan dari kalian, di dunia dan akhirat. Di dunia, kalian di adzab dengan hilangnya nikmat itu, sedang di akhirat, dengan ditimpakannya adzab yang kalian tidak akan sanggup menanggungnya
Kemudian, Allah menjelaskan bahwa manfaat kesyukuran dan bahaya kekufuran akan kembali kepada orang yang mensyukuri atau orang yang kafir kepada nikmat itu sendiri.
C. Konsep syukur dalam QS. Ibrahim : 7
Setelah penulis kemukakan dalam pembahasan di atas, Syukur dalam Qs Ibrahim : 7. Bahwa orang yang mensyukuri nikmat Allah pasti Allah akan menambah nikmatnya dan apabila kita mengkufuri nikmat Allah maka Allah akan menberikan azab yang sangat pedih.
Dalam ayat ini Allah menyampaikan janjinya dengan bahasa yang begitu indah dan sangat menjunjung ‘rasa kata’, bahkan kepada manusia yang mengingkari nikmatnya, Allah hanya menunjukan azab-Nya yang pedih tanpa menggunakan kalimat yang bernada ancaman.
Nabi Muhammad saw. lebih jauh diperintahkan agar mengingat ucapan lain yang disampaikan Nabi Musa. Pada umatnya. agar beliaupun menyampaikannya kepada umat islam. Nabi Musa berkata Kepada kaumnya: “dan ingat jugalah nikmat Allah kepada kami semua tatkala tuhan memelihara dan penganugrah aneka kebajikan pada kamu memaklumkan” sesungguhnya aku, yakni Allah, bersumpah demi kekuasaan-Ku, jika kamu bersyukur Kami akan menambah nikmat-nikmat-Ku kpada kamu karena sungguh amat berlimpah nikmat-Ku. Karena itu, berharaplah yang banyak dari-Ku dengan mensyukuriunya dan jika kamu kufur yakni mengingkari nikmat-nikmat yang telah Aku anugrahkan dengan tidak menggunakan dan tidak memanfaatkannya sebagaimana Aku kehendaki maka akan aku kurangi nikmat itu, bahkan kamu teranca, mendapat siksaku sesungguhnya siksa-Ku dengan berkurang atau hilangnya nikmat itu atau jatuhnya petaka atas kamu akan kamu rasakan sangat pedih.
Sementara ulama tidak menilai ayat ini sebagai lanjutan ucapan Nabi Musa, tetapi ini pernyataan langsung dari Allah swt. Sebagai salah satu anugrahnya. Ia merupakan anugrah karena mengetahui hakikat yang dijelaskan ayat ini menimbulkan optimisme dan mendorong untuk giat beramal guna memperoleh nikmat lebih banyak lagi.
Ayat diatas secara tegas manyatakan bahwa jika bersyukur maka pasti nikmat Alah akan ditambahnya. Tetapi kita berbicara tentang syukur nikmat, tidak ada penegasan bahawa pasti siksa-Nya akan jatuh. Ayat ini hanya menegaskan bahawa siksa Allah pedih. Jika demikian, penggalan akhir ayat ini dapat dipahami sekedar ancaman. Disisi lain, tidak tertutup kemungkinan keterhindaran dari siksa duniawi bagi yang mengkufuri nikmat Allah, bahkan boleh jadi nikmat tersebut ditambahnya dalam rangka mengulur kedurhakaan. Dalam kontek ini Allah mengingatkan:
tûïÏ%©!$#ur (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ Nßgã_ÍôtGó¡t^y ô`ÏiB ß]øym Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÊÑËÈ Í?øBé&ur öNßgs9 4 žcÎ) Ïøx. îûüÏGtB ÇÊÑÌÈ
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, nanti kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. (QS Al-araf 182-183)
Kata taa’adzdzana terambil dari kata yang seakar dengan kata adzan. Yaitu penyampaian sesuat dengan suara keras. Patrion kata yang digunakan ayat ini, mengandung penekanan.
Ibnu Asyur dan sebelumnya –al-biqa’i- menunjuk apa yang disampaikan Nabi Musa as ini adalah apa yang termaktub dalam perjanjian lama kitab keluaran IXX,XX, dan XXIII.
Hakikat yang diuraikan diatas terbukti kebenarannya dalam kehidupan nyata. Ketika menjelaskan makna syukur pada ayat diatas penulis mengemukakan bahwa syukur antara lain berarti membuka dan menampakan adan lawannya adalah kufur, yakni menutup dan menyembunyikan. hakikat syukur adalah menampakan nikmat antara lain menggunakan pada tempatnya, dan sesuai yang dikehendaki oleh pemberinya juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik.
Ini berarti setiap nikmat yang dianugerahkan Allah menuntut renungan untuk apa ia dianuagrahkan nya, lalu mengguanakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan penganugrahannya. Ambilah sebagai contoh laut. Allah menciptakan laut dan menudukannya untuk digunakan manusia Allah swt. berfirman :

“Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. (Qs An-nahal : 14)
Jika ini di pahami, mensyukuri nikmat laut menuntut kerja keras sehingga apa yang disebut diatas akan dapat diraih, dan perlu di ingat bahwa semakin giat seseorang bekerja, dan semakin bersahabat ia dengan lingkungannya, semakin banyak pula yang dapat dinikmatinya. Demikian syukur menambah nikmat.
Disisi lain, di alam raya, termasuk di perut bumi, terdapat sekian banyak nikmat Allah yang terpendam. Ia harus di syukuri dalam arti “di gali” dan ditampakan. Menutupinya atau dengan kata lain mengkufuri dapat mengundang kekurangan yang melahirkan kemiskinan, penyakit, rasa lapar cemas dan takut.


[1] Ahmad Warson Munawir, Kamus Al Munawir Arab Indonesia Terlengkap, (Surabaya, : Pustaka Progressif), Hal : 734.
[2] M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhui Atas Berbagai Persoalan Umat, (Bandung : Mizan1996), Hal : 215.
[3] Quraish Sihab, Wawasan Alquran Tafsir Maudhu atas berbagai persoalan (Bandung : Mizan, 1996) hal : 215
[4] Muhammadiyah Amin, SYUKUR (Pujian, Terima kasih) di akses pada 24 agustus 2010 dari : http://psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=119
[5] Ibid
[6] Muhammadiyah Amin, SYUKUR (Pujian, Terima kasih) di akses pada 24 agustus 2010 dari : http://psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=119
[7] Ibid
[8] Muhammad Ihsan, Tafsir Surat : IBRAHIM diakses pada 16 januari 2011 dari : http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=14#7
[9] Terjemah tafsir Al-Maraghi, hal 226-227





0 komentar:

Poskan Komentar

Ayat - Ayat Pilihan